Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Kertas Lusuh

 Aku masih mengingat betul. Waktu itu di penghujung masa putih abu, kita yang tidak banyak terlibat dalam kegiatan kelompok tiba-tiba ada dalam satu kelompok yang sama. Kamu tahu? Ada debar yang kiranya semakin kacau sebab di dekat kamu itu tidak mudah, tidak baik untuk kinerja jantungku. Dulu. Lalu ketika tugas itu dibagi dan kamu menawarkan diri untuk menulis apa yang harus ditulis, aku diam. Sekarang aku katakan saja ya alasan diamku itu. Aku tidak mungkin menolak sebab lidah aku terlanjur kelu. Terlalu takut, kalau-kalau aku banyak bicara nanti orang-orang tahu detak tidak biasa itu berasal dariku.  "Ini, simpan di kamu." Ucap kamu sembari menyerahkan dua lembar kertas berisi tulisan yang jujur itu tidak rapih. Kacau! Bukan, bukan tulisan kamu. Tapi detak jantungku. Itu semakin kacau, tidak beraturan. Harap aku saat mengulurkan tangan untuk mengambil kertas putih itu, gemetar yang dicipta tanganku itu bisa samar tidak terlihat oleh kamu. Padahal sepertinya, kamu melihatny...

Keping Tigabelas

Saya baik-baik saja. Ucap Si Manusia. Tapi yang sebenarnya adalah : di kepalanya ada banyak tanya. Sedari tadi mencari jawab tapi yang ditemukan malah tanya lain yang semakin bercabang.  Pikirannya makin kacau.  Tapi, Saya baik-baik saja. Kilahnya lagi. 

Keping Duabelas

Bintangnya tidak ada. Jadi ingin bertanya lalu temukan jawaban lewat kedip yang ia berikan, tidak bisa saya lakukan. Tidak ada bunga. Jadi tidak bisa saya meraba jawaban lewat jumlah kelopak juga mahkota yang ia punya. Hanya ada saya yang diam, dengan pikiran yang dipaksa lari-larian. Untuk cari jawaban.  Sederhana temukan masalahnya. Yang sedang saya hadapi adalah diri saya sendiri. Tapi menyelesaikannya tidak semudah kata atau ucap banyak orang yang senang menyarankan untuk berdamai dengan diri sendiri. Tidak sesederhana menulis di atas kertas, aku percaya diriku. Tidak sesederhana itu.