Kertas Lusuh
Aku masih mengingat betul. Waktu itu di penghujung masa putih abu, kita yang tidak banyak terlibat dalam kegiatan kelompok tiba-tiba ada dalam satu kelompok yang sama. Kamu tahu? Ada debar yang kiranya semakin kacau sebab di dekat kamu itu tidak mudah, tidak baik untuk kinerja jantungku. Dulu. Lalu ketika tugas itu dibagi dan kamu menawarkan diri untuk menulis apa yang harus ditulis, aku diam. Sekarang aku katakan saja ya alasan diamku itu. Aku tidak mungkin menolak sebab lidah aku terlanjur kelu. Terlalu takut, kalau-kalau aku banyak bicara nanti orang-orang tahu detak tidak biasa itu berasal dariku. "Ini, simpan di kamu." Ucap kamu sembari menyerahkan dua lembar kertas berisi tulisan yang jujur itu tidak rapih. Kacau! Bukan, bukan tulisan kamu. Tapi detak jantungku. Itu semakin kacau, tidak beraturan. Harap aku saat mengulurkan tangan untuk mengambil kertas putih itu, gemetar yang dicipta tanganku itu bisa samar tidak terlihat oleh kamu. Padahal sepertinya, kamu melihatny...