Postingan

Keping Sembilan Belas

Siapa kira? Rasa percaya itu adalah mula dari luka. Manusia itu rupanya lupa, menaruh harap ke sesama, amat besar sampai ke ngarai kecewa.  Diperlakukan sebegitu buruknya, sampai pada tahap mempertanyakan kelayakan diri? Apa memang sepantasnya? Apa sudah seharusnya? Ah... Lagi-lagi kamu terlalu jahat pada diri sendiri.  Lagi mengingat hidup katanya memang kerumunan sulit, yang terjadi sekarang adalah bagiannya. Tidak akan selamanya. Dijalani sembari mencari, bagian apa yang bisa disyukuri?  Let them, it will pass. Biar mereka bertindak sedemikian jahatnya, tanpa perlu berbalik menjadi sama jahatnya. Itu akan lewat, lagi... tidak akan untuk selamanya. 

26 01 26

 Untuk Zaq di tanggal 26/1 tahun ini. Tidak jauh beda, kiranya dari 4 ke 5 lewat jauh lebih singkat. Mungkin karena cakap itu kian sedikit jadi hanya sekilas beberapa paragraf. Tapi lagi-lagi, tiap tanggal dua enam Januari, tolong jangan bosan baca pesan semacam ini.  Untuk kamu, yang hari ini genap seperempat abad. Semoga masih ada banyak 26 Januari di masa mendatang, buat kirim juga baca pesan macam sekarang.  Di usia 25 semoga bahagia itu jadi jauh lebih banyak, sejalan dengan syukur yang tak kalah jumlahnya. Semoga senantiasa dipeluk sehat, dijauhkan dari rasa sakit juga lara.  Semoga dari jalan yang tidak begitu mudah ditempuh sekarang ini, di tengah ketidakbijaksanaan pembuat kebijakan, simpang siur sana-sini. Kamu lekas temu akara dari apa yang sudah diupayakan.  Tetap jadi kamu yang senang menyebar manfaat, menyebar ilmu. Jadi panutan juga kesayangan banyak orang.  Semoga lekas temu kawan hidup yang satu tuju, yang paling mengerti kamu. Juga jadi pe...

(Kembali) Untuk Kamu di Januari

 Dari dua tiga ke dua empat, rasanya sekejap lewat. Rupanya sama dengan cakap yang tidak lagi banyak.  Biar demikian di hari yang spesial buat manusia Januari ini, jangan terganggu ya tiba-tiba kirim pesan. Untuk kamu, yang lagi-lagi menua di 26 Januari. Semoga masih banyak 26 Januari untuk tulis juga baca ucap baru ke depan. Semoga kalut juga sedih tidak lagi banyak, terganti bahagia yang amat banyak.  Semoga cita juga harap itu terbangun satu persatu dengan segala kemudahannya.  Semoga syukurmu semakin menggunung seiring kian banyak detik yang lewat. Senantiasa sehat dan tetap jadi kamu yang banyak tebar bahagia juga manfaat untuk banyak orang.  Lagi-lagi menjadi kamu yang jauh lebih baik dan mencintai diri sendiri dari versi kamu di 23, 22, 21 juga angka lainnya yang sudah lalu.  Semoga lekas temu orang yang tepat di waktu yang tepat yang bisa buat bahagia kamu berlipat. Semoga segala do'a baik yang diterima hari ini, Allah kabulkan. Terima kasih sudah j...

Keping Delapanbelas

Ada banyak hal tidak menyenangkan sudah dilalui selama menapak di bumi. Tapi sebagian besar dari keping biru itu masih bisa diterima, masih bisa diingat tanpa kembali bawa lukanya. Tapi yang kali ini teramat pekat. Sampai buat mengingatnya, napas jadi tercekat. Pengap. Tanpa ada mendung, mata itu basah.  Dari perasaan remuk juga rapuh, manusia rumpang itu masih coba cari makna. Kiranya bagian mana yang bisa disyukuri?  Agar bisa lupa, dan lekas hilang sakitnya.

Boleh tidak?

Biar, aku tunggu seberapa lama. Seberapa banyak detik yang harus dilalui menuju sana. Dengan perasaan yang abu-abu, atau biru sekalipun. Tidak peduli seberapa lama juga menyakitkan itu. Jika kamu baik-baik saja, lainnya cukup. Di tahun lalu aku tulis kalimat demikian. Sampai sekarang pun masih sama. Hanya saja, kadang egoku teramat besar. Boleh tidak detik menuju temu itu dibuat lebih cepat? 

25/7 ke 21

Untuk diriku, aku tulis lagi kalimat-kalimat sederhana ini. Agar aku sadar bahwa sampai sekarang ini pun, aku masih dicintai setidaknya oleh diriku sendiri. Dari 20 yang sudah lewat, semakin banyak hari dilalui. Sebanyak tawa yang menggema, atau tangis yang entah itu karena bahagia atau sebaliknya. Semoga rasa syukur itu jauh lebih banyak. Dari 20 yang sudah lewat. Menyadari begitu banyak ucap, tulis, atau tindak yang belum dewasa. Masih banyak kurang dan salah. Dari jalannya waktu, harus semakin baik. Harus lebih baik. Bukan dari yang lain. Tapi lebih baik dari sendiri yang kemarin. Dari 20 yang telah lewat, bahkan di hari keduanya yang amat berat. Sangat berat. Terima kasih diriku, masih bertahan. Sudah mencoba menerima, mencoba bangun. Walau belum sepenuhnya. Terima kasih. Untuk 21, ke depan tidak tahu akan seperti apa. Seindah apapun rencana yang dirangkai dalam kepala. RencanaNya yang paling baik, jadi lalui saja ya.  Untuk 21, tetap jangan lupa untuk berterimakasih. Atas hal-...

Centang Abu Dua

Sebenarnya. Atau mungkin seharusnya nggak ada masalah. Kalau pesan kita diabaikan. Terlebih isinya nggak begitu penting juga banyak salah ketik. Jadi buat orang yang terima malas baca apalagi balas. Haha. Tapi, kalau diabaikan sama orang yang dulunya suka saling balas pesan bahas hal-hal nggak penting. Ada pahit-pahitnya. Dikit, tapi lama. Nggak bisa langsung hilang. Dasarnya mungkin aku baperan. Sadar diri kok.